Klenteng Tri Dharma – Tri Dharma 寺庙

Klenteng Tri Dharma Sumbernaga menjadi salah satu sentra wisata budaya dan sejarah di Kota Probolinggo. Klenteng yang sudah berumur lebih dari 140 tahun, menjadi salah satu magnet bagi wisatawan untuk datang dan berkunjung ke Kota Probolinggo. Berbagai atraksi yang biasanya diselenggarakan oleh pengelolan klenteng khususnya pada saat perayaan hari-hari besar keagamaan yaitu pada saat peringatan tahun baru cina (Imlek) berupa Cap Go Mek dan pagelaran Tari Barong Sai serta berbagai jenis tari khas masyarakat Tionghoa. Pengelolan Klenteng Tri Dharma tidak memungut tiket masuk, namun para pengunjung dapat mendonasikan berupa uang untuk konservasi bangunan sejarah tersebut. Klenteng Tri Dharma buka setiap hari dari pagi sampai siang hari. Lokasi terletak di Jl. WR. Supratman, Probolinggo. Berikut sejarah Klenteng Tri Dharma Sumbernaga:

SEJARAH KLENTENG TRI DHARMA SUMBERNAGA, KOTA PROBOLINGGO
DIBANGUN 1865, TAK DIKETAHUI PENDIRINYA

Lebih dari seratus tahun lalu, seorang pemuda meninggalkan desanya.Ia meninggalkan orang tua, kekasih dan sanak saudaranya untuk merantau. Bersama karib dekatnya, mereka menumpang kapal. Mengarungi ganasnya lautan. Selama berhari-hari hidup mereka diombang-ambingkan ombak.

Seminggu perjalanan berlalu, hingga mereka memutuskan untuk turun di pulau pertama yang mereka lihat saat itu.Ya, mungkin Tuhan juga memang telah menggariskan, bahwa Pulau Jawa-lah yang pertama kali mereka lihat dari atas buritan.

Sahabatnya memutuskan untuk turun di Semarang, sedang ia sendiri sedikit meneruskan perjalanan ke timur, dan mendarat di Blambangan (kini Banyuwangi).

Nama pemuda itu adalah Tan Cin Jin, sedang sahabatnya–yang turun di Semarang adalah Sam Po Kong, kini menjadi nama sebuah klenteng terkenal di Semarang. Mereka mendarat di Jawa pada akhir pemerintahan Wirabumi. Munculnya kerajaan-kerajaan islam dan kedatangan bangsa-bangsa eropa ke tanah air untuk rempah-rempah pun mewarnai ragam kehudupan mereka kala itu.

Kepiawaian Tan Cin Jin di bidang pengobatan membuat kehadirannya diterima baik oleh rakyat. Kepopulerannya pun cepat menyebar sampai ke pelosok-pelosok negeri.Tak terkecuali di Kerajaan Mengwi, Bali.

Raja Mengwi yang sirik dan merasa terancam akan kepopuleran Tan Cin Jin pun resah. Maka ia berencana untuk menyingkirkan Tan Cin Jin.

Selain ilmu pengobatan, Tan Cin Jin adalah orang yang ahli di bidang arsitek. Maka diutusnyalah Tan Cin Jin untuk membangun sebuah istana yang harus selesai dalam waktu satu hari.

Tan Cin Jin, dikisahkan tak mengindahkan titah raja. Ia terus saja berbuat baik dengan terjun dalam pengobatan rakyat yang sedang sakit. Anehnya, tiba di batas waktu pembangunan yang ditetapkan oleh sang raja, istana megah yang hingga kini tetap bernama Taman Ayun tersebut selesai dibangun.

Raja sangat marah,sebab orang yang dianggap melecehkannya itu, yang nampak tak acuh pada titahnya, hingga ia punya kesempatan untuk mengusirnya, ternyata bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.

Maka rencana lain untuk mengenyahkan Tan Cin Jin pun diatur. Tan Cin Jin tak diperkenankan pulang ke Blambangan sendiri, 3 orang pengawal diutus untuk mengantarnya. Dengan kata lain, para pengawal itu diperintahkan untuk membunuh Tan Cin Jin dalam perjalanan pulang.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Salah seorang pelayan meninggal dalam perjalanan. Seorang lainnya dikisahkan menjelma menjadi kepiting saat menyebrangi Selat Bali.Tinggal seorang lagi yang mengiringi Tan Cin Jin sebelum ia naik ke langit dan hidup sebagai roh suci. Pengawal tersebut merasa terus mengiringiTan Cin Jin ke Barat, dan kehilangan raga Tan Cin Jin di Probolinggo. Di tempat yang saat ini menjadi lokasi berdirinya Klenteng “Sumber Naga” Kota Probolinggo.

Itulah kisah yang dituturkan oleh Albert, pengurus TempatIbadat Tri Darma (TITD) “Sumber Naga” , dimana Tan Cin Jin –yang saat ini disebut sebagai Tan Hu Cin Jin, dipercaya sebagai dewa utamanya.

“Tak ada sejarah, bahkan orang-orang pengurus dan orang-orang tua di sini pun tak ada yang mengetahui siapa pendiri Klenteng Sumber Naga. Dari dulu berdiri sudah seperti ini. Tanpa bangunan di kiri dan kanan tentunya. Hanya bangunan utamanya saja.Yang kami ketahui hanyalah tahun berdirinya, yaitu 1865,” tutur Albert.

Tahun itu, lanjut Albert, terdapat dalam lonceng bergaya barat yang dibuat oleh perusahan Art Const. Vinkel Surabaya.Itulah yang akhirnya kami sepakati sebagai tahun berdirinya Klenteng Sumber Naga.

Sumber lain menyebutkan, Tan Cin Jin diterima dengan baik oleh Raja Blambangan yang kemudian memerintahkannya membangun sebuah istana di Macan putih (kini berada di wilayah Probolinggo). Dikisahkan bahwa istananya begitu sempurna sehingga kabar bahwa Raja Blambangan memiliki arsitek berbakat sampai ke telinga Raja Mengwi.

Saat itu, Raja Mengwi hendak mengadakan sebuah pesta besar serta membangun istana baru, sehingga Raja Blambangan mengutus Tan Cin Jin ke Mengwi. Awalnya Tan Cin Jin menolak karena mengetahui bahwa ia akan dikhianati, tetapi Raja Blambangan terus memaksa bahkan bersumpah bahwa jika Tan Cin Jin mengalami musibah di sana, Kerajaan Blambangan tidak akan diberkahi selama beberapa generasi.

Tan Cin Jin akhirnya berangkat ke Mengwi dan segera membangun istana baru.Saat istana selesai baru separuh, para pegawai istana datang menghadap Raja Mengwi dan berkata bahwa raja percuma menyewa si pemahat Cina karena pekerjaannya sangat mudah sementara upahnya mahal. Masyarakat Bali sendiri mampu melakukan pekerjaan yang sama dan upahnya tidak semahal itu.

Raja Mengwi bingung karena terlanjur berjanji akan membayar upahnya, apalagi ia telah memanggilnya dari tempat yang jauh. Para pegawai istana menganjurkan raja untuk membunuhnya karena Tan Cin Jin hanya seorang diri (sebatang kara). Raja Mengwi kemudian mengutus dua orang dari kasta Brahmana untuk membunuhnya.

Kedua orang ajudan raja mengundang Tan Cin Jin ke pantai untuk menikmati hiburan. Sesampai di pantai, mereka bingung dan terdiam karena menyadari bahwa korban mereka sebenarnya tidak bersalah. Tan Cin Jin menyuruh mereka untuk melaksanakan perintah raja. Namun, karena dirinya tidak bersalah, pembunuhan tersebut akan menjadi peringatan bahwa tidak lama lagi Kerajaan Mengwi dan Blambangan akan hancur.

Kedua ajudan tersebut ketakutan dan memohon maaf, selain mereka juga tidak sanggup membunuh Tan Cin Jin. Keduanya tidak berniat kembali, sebab raja pasti akan membunuh mereka karena gagal melaksanakan perintahnya. Tan Cin Jin mengajakkeduanyakeBlambangan.

Dalam kisah, Tan Cin Jin dikatakan berjalan kaki melintasi laut. Kedua sandalnya digunakan kedua ajudannya untuk mengambang. Sesampai di pantai Blambangan, mereka naik ke puncak Gunung Sembulungan dan moksa (menghilang) di sana.

Selain Probolinggo, kepopuleran Tan Hu Cin Jin sebagai leluhur etnis TiongHwa di wilayah Blambangan dan sekitarnya, dapat dilihat di beberapa tempat seperti TITD Hu Tang Miao Banyuwangi, TITD Bao Tang Miao Besuki, TITD De Long Dian Ronggojampi, Vihara Dharma Cattra Tabanan, Vihara Dharmayana Kuta, TITD Ling Yen Gong Singaraja, TITD Cung Ling Bio Negara danVihara Bodhi Dharma Ampenan-Lombok.

Tri Dharma Temple Sumbernaga became one of the cultural and historical tourism centers in Probolinggo City. Temple that has been more than 140 years old, became one of the magnets for tourists to come and visit the city of Probolinggo. Various attractions are usually organized by the management of the temple, especially during the celebration of the big religious days at the time of Chinese New Year celebrations (Imlek) in the form of Cap Go Mek and Barong Sai dance performances as well as various types of typical Chinese dance. The management of Tri Dharma Klenteng does not collect entrance fee, but visitors can donate money for the conservation of the historical building. Tri Dharma temple is open daily from morning until noon. It located at Jl. WR. Supratman, Probolinggo. Here is the history of Tri Dharma Temple Sumbernaga:

HISTORY OF TRI DHARMA RESOURCES OF DRAGON, PROBOLINGGO CITY BUILT 1865, UNKNOWN THE FOUNDER

More than a hundred years ago, a young man left his village. He left his parents, lovers and relatives to wander. With their close friends, they boarded the ship. Wading through the ferocious ocean. For days their lives were swayed by the waves.
A week’s journey went by, until they decided to go down on the first island they saw at that time. perhaps God had indeed outlined that it was the island of Java that they first saw from the stern.

His friend decided to go down in Semarang, while he himself went a little further east, and landed in Blambangan (which is now the city Banyuwangi).

The youth’s name is Tan Cin Jin, while his best friend-who dropped off in Semarang was Sam Po Kong, is now the name of a famous pagoda in Semarang. They landed on Java at the end of Wirabumi’s reign. The emergence of the Islamic kingdoms and the arrival of the European nations to the homeland for spices also colored the variety of their habits at that time.

The expertise of Tan Cin Jin in the field of medicine makes his presence well received by the people. Its popularity was quickly spread to the corners of the country. No exception in the Kingdom of Mengwi, Bali.

Mengwi King who was sly and felt threatened by the popularity of Tan Cin Jin was restless. So he plans to get rid of Tan Cin Jin.

In addition to medical science, Tan Cin Jin is an expert in the field of architects. He sent Tan Cin Jin to build a palace that must be completed within a day.
Tan Cin Jin, told not to heed the command of the king. He continues to do good by plunging in the treatment of the sick people. Surprisingly, arriving at the time limits of development set by the king, the magnificent palace that until now still named Taman Ayun was completed.
The king was very angry, because the person who was considered to be harassing him, who seemed indifferent to his decree, until he had a chance to chase him out, was able to finish his job well.

Then another plan to get rid of Tan Cin Jin was arranged. Tan Cin Jin was not allowed to return to Blambangan himself, 3 guards were sent to escort him. In other words, the guards were ordered to kill Tan Cin Jin on their way home.

Fortunately can not be achieved, unfortunate can not be rejected. One of the servants died on the way. Another one was told to transform into a crab while crossing the Strait of Bali. One more person accompanied Tan Cin Jin before he ascended to heaven and lived as a holy spirit. The guard feels continued to accompany Cin Jin to the West, and loses Tan Cin Jin’s body in Probolinggo. In the place that is currently the location of the founding of the “Sumber Naga” Temple Town of Probolinggo.

That’s the story told by Albert, the manager of the Tri Dharma Places (TITD) “Dragon Sources”, where Tan Cin Jin-yang is now called Tan Hu Cin Jin, is believed to be his main deity.

“There is no history, not even the administrators and the elders here nor anyone knows who the founder of the Dragon Source Temple. It has always been like this. Without building on the left and right of course. Only the main building saja.Yang we know only years of establishment, which is 1865, “said Albert.

Another source mentioned that Tan Cin Jin was well received by the Blambangan King who then ordered him to build a palace in the white Tiger (now in Probolinggo). It is said that the palace was so perfect that the news that King Blambangan has a talented architect to the ears of King Mengwi.

At that time, King Mengwi intend to hold a big party and build a new palace, so the King Blambangan sent Tan Cin Jin to Mengwi. Tan Cin Jin initially refused to know that he would be betrayed, but the King of Blambangan continued to force even swear that if Tan Cin Jin had suffered there, the Blambangan Kingdom would not be blessed for generations.

Tan Cin Jin finally goes to Mengwi and immediately builds a new palace. When the palace is finished only halfway, the court officials come to the King of Mengwi and say that the king is free to hire the Chinese sculptor because his job is very easy while the wages are expensive. The Balinese themselves are able to do the same work and the wages are not as expensive.

The two aides of the king invited Tan Cin Jin to the beach to enjoy the entertainment. Upon arriving at the beach, they are confused and silent because they realize that their victims are actually innocent. Tan Cin Jin told them to carry out the king’s orders. However, because he is innocent, the murder will be a reminder that soon the Kingdom of Mengwi and Blambangan will be destroyed.

Both of the aides were frightened and apologized, and they were not able to kill Tan Cin Jin either. The two had no intention of returning, for the king would have killed them for failing to carry out his orders. Tan Cin Jin invites her to do the Mining.

an addition to Probolinggo, the popularity of Tan Hu Cin Jin as an ethnic Tiong Hwa ancestor in the Blambangan region and beyond, can be seen in several places such as TITD Hu Tang Miao Banyuwangi, TITD Bao Tang Miao Besuki, TITD De Long Dian Ronggojampi, Dharma Cattra Tabanan Vihara, Dharmayana Kuta Temple , TITD Ling Yen Gong Singaraja, TITD Cung Ling Bio Negara and Bodhi Dharma Temple Ampenan-Lombok.

Tri Dharma Sumbernaga 寺庙成为庞越文化历史旅游中心之一。这座寺庙已有140多年历史,成为游客前来参观庞越城的磁铁之一。寺庙的组织者通常举行了各种各样的景点,特别是在庆祝中国新年,而庆祝大宗教节日中,例如:庆祝春节日时(imlek), 以Cap Go Mek和Barongsai的舞蹈表演形式,以及各种典型的中国舞蹈。Tri Dharma Sumbernaga 寺庙管理不收取入场费,但是为了保护历史建筑,游客们可以捐款。每天Tri Dharma Sumbernaga 寺庙从早上到中午开放。它位于庞越市,WR.Supratman路。下面就是Tri Dharma Sumbernaga 寺庙的历史:

Tri Dharma Sumbernaga 寺庙的历史,来自庞越市,1865建造的,创始人是未知的。
一百多年前,有一个年轻人离开了他的村庄。他离开父母、爱人和亲戚去流浪。他和朋友们一起登上了船。在浩瀚的海洋中跋涉,好几天的时间他们的生活被波浪摇晃了。

一周的旅程了,他们决定在第一次看到了一个海岛上去。可能是上帝确实指出这是java的岛上,他们第一次看到从船尾。
他的朋友决定去三宝垄,而他自己又往前走了一点,然后在Blambangan降落(Blambangan现在是外南梦城)。

青年的名字是Tan Cin Jin,而他最好的朋友—Sam Po Kong谁在三宝垄下车,现在在三宝垄成为一个著名寺庙的名字。他们在爪哇降落,而在Wirabumi统治的结束。伊斯兰王国的出现和欧洲国家对香料的到来也使当时他们的习惯多样化。

Tan Cin Jin在医学领域的专长使他的存在受到人们的欢迎。它的知名度迅速蔓延到全国各地。在巴厘,Mengwi王国也不例外。
Mengwi 国王被Tan Cin Jin的风气吓坏了,是因为感到很不安,所以他打算把Tan Cin Jin除掉。

除了医学之外,Tan Cin Jin是建筑师领域的专家。他派Tan Cin Jin把一座宫殿去建造,建造一座宫的时间,必须在一天之内完成的。
Tan Cin Jin告诉国王不要听从国王的命令。他继续投入治疗病人的好处。令人惊讶的是,到达了国王设定的时间限制,直到现在仍然命名为Taman Ayun的宏伟宫殿已经完成。

国王非常生气,是因为被认为是骚扰他的人,似乎对他的法令漠不关心,直到他有机会把他赶出去,他能够把他的工作,很好地完成。
后来安排了另一个摆脱Tan Cin Jin的计划,Tan Cin Jin本人不允许返回Blambangan,3名警卫被派去护送他。换句话说,守卫被命令在回家的路上中杀死了Tan Cin Jin。

幸运的是不能实现,不幸的是不能拒绝。一个仆人在路上死了。另一个则被告知在横渡巴厘海峡时变成螃蟹。在Tan Cin Jin升天之前,还有一个人陪伴着他,作为圣灵活着。守卫感觉到继续陪Cin Jin去西部,在庞越失去了Tan Cin Jin的尸体。现在成为了“Sumber Naga”寺庙的地方。
这就是艾伯特的故事,他是“Tri Dharma Sumber naga寺 庙 ”(TITD)的管理者。在这里,Tan Cin Jun被称为“Tan Hu Cin Jin”,而被认为是他的主要神。

根据艾伯特来说:“并没有历史,连管理人员和长老都没有,而没有人知道Sumber Naga 寺的创始人是谁。它一直是这样的,没有左边和右边的建筑。只有主建筑,我们只知道多年的建立,就是在1865年。”

另一个消息来源提到Tan Cin Jin受到了Blambangan 国王的欢迎,命令他在Macan Putih(现在在庞越)建造一座宫殿。据说这座宫殿是如此的完美,以至于Blambangan国王有一个有才华的建筑师的消息传到了 Mengwi国王的耳朵里。

当时, Mengwi国王打算举行一个盛大的聚会,建造一座新宫殿,于是 Blambangan国王派Tan Cin Jin去Mengwi。Tan Cin Jin起初不知道他会被出卖,但Blambangan国王继续逼迫他发誓,如果Tan Cin Jin在那里受苦,Blambangan王国就不会世世代代有福。

Tan Cin Jin终于去了Mengwi,立刻建造了一座新宫殿。当宫殿只完成一半,法院官员来到 Mengwi 国王说:“国王可以自由聘请中国雕塑家,因为他的工作很容易,而工资昂贵。巴厘岛人自己也能做同样的工作,工资也不贵。”
Mengwi国王困惑地,是因为已经答应支付他的工资,更别说他从远方打电话给他了。宫廷官员鼓励国王杀死他,因为Tan Cin Jin独自一人。于是Mengwi王派两个来Barmin种姓的人杀了他。

国王的两位助手邀请Tan Cin Jin去海滩享受娱乐。到达海滩后,他们感到困惑和沉默,因为他们意识到他们的受害者其实是无辜的。Tan Cin Jin吩咐他们执行国王的命令。然而,因为他是无辜的,谋杀将提醒人们,孟威王国和Blambangan王国很快就会被毁灭。

两个助手都害怕和道歉,他们也不能杀死Tan Cin Jin。这两个人不打算回来,因为国王没有执行命令而杀死他们。之所以Tan Cin Jin邀请她去采矿。

除庞越外,Tan Hu Cin Jin的热门作为中国族祖先在Blambangan地区,及其他地区的知名度,例如:在外南梦、Bao Tang、Besuki、De Long Dian Ronggojampi、Vihara Dharma Cattra Tabanan、Vihara Dharmayana Kuta、Ling Yen Gong Singaraja, 等几个地方都可以看到这个寺庙。